Benarkah Sirkumsisi Sebabkan Infeksi Luka Operasi?

[et_pb_section fb_built=”1″ specialty=”on” _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default”][et_pb_column type=”3_4″ specialty_columns=”3″][et_pb_row_inner _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default”][et_pb_column_inner saved_specialty_column_type=”3_4″ _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default”][et_pb_text _builder_version=”4.9.2″ _module_preset=”default” hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″]

Benarkah Sirkumsisi Sebabkan Infeksi Luka Operasi? – Pada beberapa kondisi yang berkaitan dengan kesehatan seseorang, sunat menjadi pilihan pengobatan yang harus dilakukan. Misalnya pada pengidap fimosis ketika kulit luar penis tidak bisa ditarik, sehingga menimbulkan rasa sakit ketika buang air kecil. Begitu pula dengan parafimosis, yang terjadi ketika kulit luar penis tidak bisa kembali ke posisi semula setelah ditarik.

Benarkah Sirkumsisi Sebabkan Infeksi Luka Operasi?

Pada anak-anak, sirkumsisi sejak dini menjadi pengobatan untuk mengatasi balanitis, infeksi yang menyerang bagian kepala penis. Tidak hanya pada anak, balanitis bisa terjadi pada remaja dan dewasa, sifatnya pun kambuhan. Namun, benarkah infeksi setelah sunat bisa terjadi? Apakah hal tersebut berbahaya?

Memang benar, infeksi setelah sunat mungkin terjadi. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena persentase nya sangat kecil alias sangat jarang. Pasalnya, sirkumsisi termasuk tindakan operasi, dan operasi sekecil apa pun memicu terjadinya komplikasi dan infeksi luka operasi. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi?

Anda bisa bertanya pada dokter terdekat dimana terdapat rumah sunat untuk bertanya dan mendapatkan penanganan paska khitan. Biasanya, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengurangi infeksi dan menyarankan anda untuk mandi secara teratur. Perawatan yang tepat bisa meminimalisir dampak negatif yang mungkin terjadi, jadi selalu ikuti petunjuk dokter.

Risiko Lain yang Mungkin Terjadi Setelah Sunat

Selain infeksi, anak Anda juga dapat mengalami perdarahan setelah sunat. Beberapa kondisi perdarahan yang sering terjadi adalah perdarahan yang muncul di sela jahitan sunat atau ketika terjadi ereksi dalam waktu satu hingga dua hari setelah tindakan masih dianggap normal. Anda hanya perlu mengeringkan luka dan mengoleskan salep antibiotik untuk mempercepat penyembuhan lukanya.

Meatal stenosis adalah risiko lain yang mungkin terjadi setelah sirkumsisi dilakukan. Kondisi ini adalah melekat atau menyempit nya muara saluran untuk berkemih. Jika terjadi pada bayi, biasanya disebabkan dermatitis akibat bersentuhan dengan popok sekali pakai, sementara pada remaja, penyebabnya adalah balanitis xerotica obliterans.

Bagaimana Supaya Luka Sirkumsisi Cepat Sembuh?

Pasti rasanya nyeri setelah sunat. Biasanya, diberikan obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen atau asam mefenamat. Lalu, rajin-rajinlah membersihkan area penis. Gunakan air hangat dan hindari menggunakan sabun, disarankan juga untuk menggunakan celana sunat atau celana yang longgar dan menghindari memakai celana dalam sampai jahitan sepenuhnya kering. Menggunakan celana longgar juga bisa melancarkan sirkulasi udara dan darah ke area penis, sehingga luka sirkumsisi lebih cepat sembuh dan supaya luka cepat kering dan tidak terasa sakit.

Sesuai dengan namanya, infeksi lupa operasi berarti infeksi yang muncul pada bekas luka sayatan operasi. Saat menjalani operasi, dokter membuat sayatan pada kulit menggunakan pisau bedah, sehingga menimbulkan luka operasi. Meski operasi dilakukan sesuai prosedur, infeksi pada luka operasi tetap ada. Biasanya, risiko muncul dalam 30 hari pertama setelah operasi dilakukan.

Terdapat tiga lokasi yang memungkinkan terjadinya infeksi luka operasi, yaitu sayatan dangkal di area sayatan kulit, sayatan dalam di otot, dan infeksi pada organ atau rongga area operasi.

Infeksi Bekas Luka Operasi Dipicu oleh Bakteri

Kebanyakan kasus infeksi luka operasi disebabkan oleh infeksi bakteri. Paling umum adalah Staphylococcus, Streptococcus, dan Pseudomonas. Luka biasanya terbentuk akibat interaksi luka dengan kuman di kulit, interaksi kuman di udara, interaksi kuman yang ada di dalam tubuh, interaksi dengan tangan dokter dan perawat, serta interaksi dengan alat-alat operasi.

Risiko infeksi luka operasi meningkat jika seseorang menjalani prosedur operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 2 jam, operasi pada perut, dan operasi segera (cito). Faktor risiko lainnya adalah faktor usia (lansia berisiko tinggi mengalami infeksi luka operasi), daya tahan tubuh lemah, obesitas, merokok, serta mengidap penyakit kanker dan diabetes.

Mengenal Bahaya Infeksi Bekas Luka Operasi

Gejala infeksi luka operasi berupa ruam kemerahan, demam, rasa sakit, perih, luka terasa panas, pembengkakan, muncul nanah, luka operasi bau, dan proses penyembuhan pasca operasi lama.

Jika anak Anda mengalami gejala tersebut pasca menjalani operasi, segera bicara pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jika tidak, berikut risiko bahaya yang terjadi:

  1. Penyebaran infeksi ke jaringan di bawah kulit (selulitis).

Infeksi luka operasi bisa menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini disertai dengan perubahan tanda vital, seperti suhu tubuh, tekanan darah, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung (sepsis).

  1. Timbul jaringan parut pada luka bekas operasi.
  2. Infeksi kulit lain, seperti impetigo.
  3. Muncul kumpulan nanah atau abses.

5.Infeksi kulit mengalami kerusakan dan menyebar cepat ke area sekitar kulit bekas operasi (disebut necrotising fasciitis).

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mencegah infeksi luka operasi?

  • Mandi dengan air dan sabun sebelum operasi.
  • Lepas seluruh perhiasan sebelum menjalani operasi.
  • Jaga agar luka tetap tertutup dan pastikan area di sekitarnya tetap bersih. Biasanya, anak diperbolehkan mandi dua hari setelah operasi sunat.
  • Jika kulit di sekitar luka sayatan menjadi merah dan sakit, segera hubungi dokter atau perawat.

Itulah bahaya infeksi bekas luka operasi yang perlu diketahui. Kalau anak Anda punya keluhan setelah menjalani operasi, jangan ragu untuk berbicara pada dokter ahli.

[/et_pb_text][/et_pb_column_inner][/et_pb_row_inner][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_4″][et_pb_sidebar area=”et_pb_widget_area_1″ _builder_version=”4.4.9″ body_font=”|700|||||||” body_text_color=”#000000″ background_color=”#e8e8e8″ custom_padding=”10px|10px|10px|10px|true|true” border_width_all=”1.2px” border_color_all=”rgba(0,0,0,0)” border_color_all__hover_enabled=”on|hover” border_color_all__hover=”#eb3155″ body_text_color__hover_enabled=”on|hover” body_text_color__hover=”#eb3155″ global_module=”987466610″][/et_pb_sidebar][/et_pb_column][/et_pb_section]