Cara Merayu Anak Agar Berani Sunat – Sunat menjadi momok bagi anak, karena penjelas orangtua atau temannya sehingga dia tidak mau disunat. Maka, peran orangtua sangat penting, tak bisa disepelekan agar anak berani untuk menjalani sunat ini. Rasa takut anak ini dipucu bayangan rasa sakit saat menjalani sunat, dan luka perih pasca sunat setelah efek suntik kebal telah hilang yang tak tertahankan.
Lakukan pendekatan secara personal
Keberanian anak sunat harus dipupuk dengan cara pendekatan personal. Pasalnya, hanya memberitahukannya secara serampangan tidak akan menumbuhkan rasa percaya diri si kecil. Orangtua, khususnya Papa, diharapkan dapat meluangkan banyak waktu untuk melakukan pendekatan ini. Ajak anak ngobrol berdua di waktu-waktu luang. Misalnya, sebelum tidur, saat bermain bersama, atau luangkan waktu untuk keluar rumah berdua. Pendekatan secara personal ini akan membuat jagoan kecil Mama Papa jadi lebih berani dan percaya diri.
Jelaskan mengenai pentingnya khitan
Penting juga memberitahukan pada anak mengenai pentingnya khitan. Informasi ini akan membuat si kecil semakin yakin untuk sunat. Berikan penjelasan secara medis, atau bisa juga spiritual mengenai sunat. Bagi seorang muslim, sunat merupakan kewajiban bagi laki-laki. Tekankan mengenai hal-hal spiritual tersebut. Selain itu, jangan lupa memberinya pengertian dari segi medis. Karena manfaat sunat dapat membuat tubuh terhindar dari risiko infeksi akibat virus, jamur, dan bakteri. Jelaskan bahwa sunat adalah kewajiban untuk Muslim supaya ibadahnya lebih sempurna. Katakan bahwa setiap muslim harus disunat, anak muslim tidak takut disunat. Sedangkan untuk yang non-muslim, dengan melakukan sunat dapat menjaga kesehatan tubuh dari infeksi virus, jamur dan bakteri patogen.
Jelaskan terkait manfaat sunat
Secara medis, sunat memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, seperti mencegah penyakit fimosis ataupun kesehatan penis, hingga mengurangi risiko HIV/AIDS. Ketika belum disunat, bakteri akan terkumpul saat buang air kecil. Bakteri ini bias menyebabkan infesi saluran kencing.
Jelaskan pada anak tentang biusnya, rasa sakitnya, dan katakan bahwa sunat itu tidak sakit. Dengan menuturinya seperti itu, terkadang anak dapat langsung mempercayainya. Akan tetapi, tak sedikit anak malah merasa sedang dibohongi. Jika sudah seperti itu, Anda sebaiknya mengatakan yang sejujurnya. Anda bisa menjelaskan seperti ini, sunat memang terasa sakit, akan tetapi hanya sebentar saja kok, seperti digigit semut rasanya.
Beri iming-iming hadiah bila mau disunat. Bila cara diatas kurang membantu membujuk anak anda, anda dapat menjanjikan pemberian hadiah kepada si anak. Atau mungkin saat sunatan diadakan upacara-upacara adat supaya lebih meriah. Bayang-bayang takut sunat pada anak akan tenggelam oleh kemeriahan upacara khitan Anak.
Ceritakan pengalaman orang lain.
Anak suka sekali mendengar pengalaman papanya waktu disunat, atau cerita kakaknya bisa juga teman-temannya. Disini pasti anak akan banyak pertanyaan, ceritakan pengalaman yang bisa memotivasi anak agar mau disunat. Jelaskan bahwa anak anda anak pemberani. Katakan pada anak anda, bahwa dia seorang pemperani, tidak takut disunat,dan menjelang hari “H”, jauhkan anak-anak dengan teman sebayanya jangan anggap sepele yang terakhir ini. Anda harus menjauhkan anak anda dari pengaruh perkataan teman-temannya yang menaku-nakuti si anak menjelang acara sunatannya. Jangan jadikan sunat sebagai ancaman; atau bahan menakut-nakuti anak, ya. Ada beberapa orangtua yang tanpa sadar sering mengucapkan, “Kakak jangan nakal, nanti Mama sunat, lho!”. Tanpa disadari kalimat-kalimat seperti ini akan tertanam di alam bawah sadarnya.
Setelah proses sunat selesai, orangtua masih harus terus mendampinginya dengan tak membuatnya melakukan banyak aktivitas. Areal intim juga harus selalu diperhatikan kebersihannya dengan membersihkan menggunakan air atau tisu. Jangan lupa juga ingatkan dia agar mengurangi gesekan pada permukaan yang disunat.
Itulah Cara Merayu Anak Agar Berani Sunat dari pelazamedis yang dapat Anda coba.
[/et_pb_text][/et_pb_column_inner][/et_pb_row_inner][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_4″ _builder_version=”4.16″ custom_padding=”|||” global_colors_info=”{}” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_sidebar area=”et_pb_widget_area_1″ _builder_version=”4.16″ body_font=”Poppins||||||||” body_text_color=”#FFFFFF” body_font_size=”0.9vw” body_line_height=”1.8em” background_color=”#eb3155″ custom_padding=”1vw|1vw|1vw|1vw|true|true” custom_padding_tablet=”3vw|3vw|3vw|3vw|true|true” custom_padding_phone=”5vw|5vw|5vw|5vw|true|true” custom_padding_last_edited=”on|phone” body_font_size_tablet=”1.9vw” body_font_size_phone=”3.4vw” body_font_size_last_edited=”on|phone” border_radii=”on|10px|10px|10px|10px” border_width_all=”1.2px” border_color_all=”rgba(0,0,0,0)” global_module=”987466610″ global_colors_info=”{}” border_color_all__hover=”#eb3155″ border_color_all__hover_enabled=”on|hover”][/et_pb_sidebar][/et_pb_column][/et_pb_section]
Add comment