Mitos Seputar Vaksin Covid 19 – Sudah lebih satu tahun pandemi  terjadi di Dunia, kehadiran vaksin merupakan angin segar bagi umat manusia. Tetapi terlepas dari semua itu, masih ada sejumlah kelompok skeptis yang masih khawatir tentang vaksin Covid – 19.

Mitos Seputar Vaksin Covid 19

Ada beberapa mitos tentang vaksinasi Covid-19 yang berseliweran di tengah masyarakat. Tidak sedikit mitos membuat masyarakat enggan menjalani vaksinasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengamini bahwa satu dari sepuluh ancaman kesehatan global adalah keraguan orang atas vaksin.

Padahal menurut Henry Bernstein, DO, MHCM, seorang dokter anak di Cohen Children’s Medical Center – Northwell Health, New York, yang saat ini tengah bertugas di Komite Penasihat untuk Praktik Imunisasi CDC, kepercayaan publik sangat penting untuk menyukseskan program vaksinasi dan mengakhiri pandemi.

  • Menganggu fertilitas dalam menghasilkan keturunan

Fakta:

The New York Times melaporkan pada 10 Desember tentang rumor yang membanjiri internet bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan pada wanita karena mengandung bahan yang mengganggu perkembangan plasenta.

Dr. Bernstein berkata, “Tidak ada data untuk mendukung hipotesis ini. Para ahli percaya bahwa vaksin mRNA tidak mungkin menimbulkan risiko bagi wanita hamil atau janinnya.”Dia menunjukkan bahwa, seperti biasa, CDC akan memantau dengan hati-hati setiap kejadian buruk di bulan-bulan mendatang.

  • Mengubah DNA

Fakta:

Vaksin Covid-19 yang saat ini beredar merupakan vaksin berbasis mRNA. mRNA berfungsi memberi instruksi kepada tubuh untuk membuat protein. Kebanyakan vaksin dikembangkan dengan memberikan protein atau memberikan komponen kecil dari virus yang kita coba divaksinasi. Melalui pendekatan baru, mRNA dapat memberi instruksi pada tubuh untuk membuat bagian kecil itu dan kemudian sistem kekebalan alami akan meresponsnya. mRNA dari vaksin tidak pernah memasuki inti sel dan tidak memengaruhi atau berinteraksi dengan DNA seseorang.

  • Diproduksi secara terburu-buru

Fakta:

Vaksin Covid-19 sudah diuji melalui tahap klinis yang ketat, dengan komponen dan dosis yang aman untuk manusia. Sebelum diberikan kepada manusia, vaksin diuji pada hewan. Pengujian pada manusia juga dilakukan dengan puluhan ribu orang, hingga akhirnya diizinkan untuk digunakan bagi masyarakat umum.

  • Vaksin membuat terinfeksi virus corona

Fakta: 

Vaksin mRNA tidak mengandung virus hidup dan tidak berisiko menyebabkan penyakit pada orang yang divaksinasi. Cara kerja vaksin adalah dengan memaparkan tubuh pada protein yang ada di permukaan virus, tetapi virus lainnya tidak hadir. Oleh karena itu, tubuh tidak terinfeksi virus dan tidak dapat berubah menjadi virus.

  • Setelah divaksinasi bisa hidup dengan bebas

Fakta: 

Bahkan setelah orang mendapatkan vaksin mRNA dan suntikan booster yang diperlukan, mereka tetap perlu memakai masker dan menghindari kontak dekat dengan orang lain, karena, tidak diketahui apakah mereka masih dapat membawa virus dan menularkannya ke orang lain atau tidak.

Herd immunity atau kekebalan kelompok didefinisikan sebagai titik di mana penyebaran penyakit dari orang ke orang menjadi tidak mungkin karena kekebalan yang telah meluas. Tetapi jika orang yang divaksinasi terinfeksi, mereka jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan penyakit parah.

  • Vaksin ada kandungan zat berbahaya.

Fakta:

Vaksin yang sudah diproduksi massal harus memenuhi syarat utama: aman, efektif, stabil, dan efisien dari segi biaya. Bila ditemukan satu efek samping yang tidak diinginkan, vaksin akan ditarik dan itu dapat diketahui dari tahap awal.

  • Halal-haram vaksin

Fakta:

Isu ini hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di Timur Tengah dengan negara berpenduduk mayoritas Muslim, pro kontra terhadap kehalalan vaksin tidak terjadi. Semua masyarakat dunia pun sepakat pentingnya vaksin.

Tidak ada bagian babi yang masuk dalam vaksin. Enzim ini akan dimurnikan kembali sehingga komponen perantara tidak ikut masuk pada vaksin. Ketika dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim dari babi, pada produksi akhirnya hanya virus yang masuk dalam vaksin.

Dan saat ini vaksin Covid-19 sudah tersertifikasi halal oleh MUI dalam Fatwanya Nomor: 02 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Science Co. LTD China dan PT Bio Farma (Persero), MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal.

  • Salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, ingin menggunakan vaksin Covid-19 untuk menanamkan microchip pada manusia

Fakta: 

Sampai saat ini, informasi yang beredar mengenai penanaman microchip tersebut tidaklah benar. Orang-orang yang takut di vaksin ingin membuktikan emosi mereka, sehingga mereka lebih cenderung memberikan informasi yang aneh.

Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang lebih akurat dan terbukti secara ilmiah terkait vaksin dari sumber yang terpercaya.